Belajar Nasionalisme dari Negeri Para Oppa

Pagi itu di akhir Bulan Juli 2013, Profesor David Weber, dosen dari Missouri University yang mengajar Public Policy untuk kelas Summer School yang saya ikuti, di tengah-tengah penjelasannya mengenai Konstitusi Amerika Serikat tiba-tiba berkata “Naver it.” Seketika semua orang di kelas kecuali saya mulai mengeluarkan gawai mereka seolah-olah mulai mencari sesuatu sesuai yang diinstruksikan Profesor Weber. Di kelas itu hanya saya satu-satunya mahasiswa internasional. Mungkin mata kuliah ini terlalu sulit dan serius sehingga mahasiswa internasional lainnya yang mengikuti program exchange student summer school tidak ada yang mengambil mata kuliah itu. Prof. Weber paham dengan kebingungan saya kemudian beliau berkata “They don’t use google, naver is their search engine” ujar beliau dengan ekspresi lucu. Saat itu saya langsung paham bahwa google bukan lah search engine yang umum di Korea Selatan, mereka memilki mesin pencari mereka sendiri yaitu Naver.

Saat kelas pertama oleh Prof. Weber, saya masih mengingat salah satu kalimat yang beliau katakan “In this class you must learn to write alphabetic fast, because we dont have enough time for delivering all of the subject. Saat itu saya bingung dengan perintah beliau. Bukan kah menulis huruf alphabet adalah hal yang mudah dan tentu saja semua mahasiswa bisa. Tapi ternyata asumsi saya salah, karena pada faktanya memang mahasiswa di Korea kurang lancar dalam menulis alphabet. Hal tersebut dikarenakan mereka dalam kesehariannya menggunakan tulisan Hangeul dan hanya menggunakan alphabet ketika berbahasa inggris saja. Kemudian saya tergerak untuk menanyakan sejak usia berapa mereka belajar berbahasa inggris. Mayoritas menjawab sejak usia SD, usia yang cukup dini tentunya. Seorang teman saya di kelas saat itu mengatakan bahwa Bahasa Inggris adalah sebuah momok. Bagi mereka sangat sulit untuk bisa berbahasa inggris dengan baik. Hal tersebut memang terbukti karena ketika berinteraksi dengan mereka, mereka tidak fast response meskipun mereka mungkin paham dengan apa yang saya bicarakan. Contoh lainnya, bagi para pecinta K-pop dan K-drama, pasti tahu dan mengerti bahwa artis-artis Korea sangat sedikit yang bisa berbahasa inggris dengan baik.

Dari kedua pengalaman di atas, apakah itu berarti Korea Selatan merupakan Negara yang tertinggal karena tidak mengikuti perkembangan dunia global dari segi teknologi dan bahasa? Jawabannya, tidak. Dua hal tersebut terjadi karena Korea Selatan adalah salah satu Negara yang penduduknya memiliki nasionalisme yang tinggi. Meskipun pada faktanya Korea Selatan adalah Negara yang banyak berkiblat pada Amerika Serikat, kontras terjadi di kehidupan sehari-sehari karena saat di sana saya melihat hampir semua mahasiswa Korea menggunakan smart phone bermerk LG atau Samsung dan hampir tidak ada yang menggunakan Iphone. Tindakan nyata yang menunjukkan bahwa mereka mencintai produk lokal mereka sendiri. Sama halnya dengan penggunaan Naver dibanding Google.

Dari kedua hal sederhana tersebut membuat saya merasa bahwa ‘mencintai produk dalam negeri’ bukan lah hanya sekedar slogan belaka. Salah satu faktor yang menyebabkan Korea Selatan bangkit setelah mengalami krisis ekonomi besar-besaran adalah kekompakan warganya dalam melakukan ‘kampanye untuk mengumpulkan emas' sejak bulan Desember tahun 1997 sebagai salah satu cara untuk membayar utang luar negeri. Kampanye itu diikuti 3 juta 500 ribu orang, dan media luar negeri memuji-muji semangat warga masyarakat Korea Selatan untuk mengatasi krisis moneter. Emas yang dikumpulkan melalui kampanye itu menjadi landasan untuk melepaskan diri dari krisis nasional.

Sistem ekonomi yang berubah membuat kondisi ekonomi Korea Selatan semakin menjadi stabil. Daya saing ekspor membaik dan surplus neraca perdagangan semakin meningkat, sehingga cadangan devisa juga semakin penuh. Hal tersebut membuat Korea Selatan dengan cepat dapat membayar utangnya ke IMF. Akhirnya, Korea Selatan berhasil melepaskan diri dari kontrol IMF pada tanggal 23 Agustus tahun 2001 dengan membayar seluruh dana penyelamatan IMF. 

Dapat disimpulkan bahwa bangsa yang kuat dengan semangat nasionalisme yang tinggi memang sangat diperlukan bukan hanya ketika melawan penjajah, namun dalam segala proses menuju kedewasaan suatu bangsa. Saat ini makna merdeka bukan hanya bebas dari penjajahan tapi lebih ke kebebasan dalam menentukan sikap dan kebijakan-kebijakan tanpa adanya intervensi dari luar. Sebagai warga Negara yang (inshaAllah) baik, bukan berarti kita harus berhenti belajar bahasa asing atau berhenti menggunakan google dan kawan-kawannya, tapi cukup dengan merasa bangga dengan identitas kita sebagai orang Indonesia dan tidak menjadikan apa yang berasal dari barat atau atribut kebule-bulean adalah hal yang harus ditiru dan diikuti.





Ditulis di Jakarta, dibaca di mana saja



Comments

Popular posts from this blog

Uang Panai’: Kasih Tak Sampai Para Bujang Bugis

Sebuah Dilema Menjadi Mahasiswa Baru pada Fakultas Hukum dan Cara Mengatasinya

Hikmah di Balik Ramainya RUU Permusikan