Dari Skripsi Menjadi Buku

Pada postingan kali ini saya akan membagi sedikit pengalaman dalam membukukan karya ilmiah☺ Karya ilmiah yang saya bukukan adalah skripsi, hasil buah pikiran perjuangan berdarah-darah berbulan-bulan demi menyandang gelar sarjana :D Tapi sebelum itu saya ingin sedikit menceritakan perjalanan saya di dunia yang penuh kata-kata ini hehe... 

Pertama kali saya merasa suka merangkai kata demi kata menjadi kalimat, kalimat demi kalimat menjadi paragraf, hingga menjadi sesuatu yang bisa dibaca adalah ketika berumur 9 tahun. Semasa SD saya sering menjuarai lomba mengarang yang diadakan kakek saya :D Iya lomba mengarang, kakek saya setiap liburan menyelenggarakan lomba mengarang yang diikuti cucu-cucunya yang usianya sepantaran XD Saya selalu menjadi juara satu dari tiga peserta wkwk.

Lulus SD saya merantau ke Pulau Jawa dan bersekolah di pesantren, konon katanya pesantren itu adalah 'penjara suci'. Di tengah padatnya kegiatan pesantren, saya menemukan hiburan dan kebahagiaan ketika menulis. Mungkin itu yang dirasakan Presiden Soekarno, Tan Malaka, Pram, hingga Sayyidh Qutubh ketika mereka terus menulis di balik jeruji pengasingan. Tapi sayangnya saya hanya remaja labil biasa yang sangat sulit untuk fokus dan konsisten :'D Saya suka menulis, tapi ketika saya bosan dengan sebuah cerita yang saya tulis maka saya akan beralih ke kisah baru, begitu seterusnya hingga mungkin saya punya sekitar 7 draft novel yang tidak terselesaikan wkwkw.

Singkat cerita, selain menulis fiksi, saya terjun juga di dunia jurnalistik sejak smp. Saat itu saya menjadi pengurus mading dan ketika SMA saya menjadi editor di majalah sekolah. Lulus dari pesantren di tengah serangan perkembangan teknologi yang begitu cepat, saya pun ikut dalam arus itu. Saya menemukan diri saya 'malas' dan tidak bergairah dalam menulis. Jawabannya tentu saja karena saya menemukan hiburan-hiburan yang lebih mudah dan menyenangkan, bermain sosial media tentunya. Saat itu saya memiliki blog tapi tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Hingga kemudian saya mulai memanfaatkan instagram saya @lulunkhairun dengan menulis caption-caption yang menceritakan setiap foto yang saya posting. Kebanyakan tulisan di @lulunkhairun adalah opini atau cerita non fiksi. Kemudian saya mengenal tumblr dan merasa seperti menemukan tempat untuk kembali menulis. Di tumblr lah saya mulai kembali menulis hal-hal sederhana :) Tapi sayangnya tumblr tidak diijinkan di Indonesia, hingga akhirnya saya memutuskan untuk 'pindah rumah' dan juriststory.blogspot.com menjadi rumah saya yang baru :)) Saya memiliki akun instagram baru @serenadelangit karena saya ingin mencoba kembali fokus di dunia fiksi dan prosa :)

Di sisi lain, ketika kuliah saya menemukan passion di dunia penelitian. Saya sering mengikuti International Moot Court Competition yang mengharuskan saya untuk memiliki kepekaan yang tinggi dalam melakukan research. 

Pembeda antara menulis ilmiah dan non ilmiah menurut saya adalah pada rasa atau nyawa tulisan. Mungkin ketika menulis tulisan non ilmiah, kita membutuhkan kepekaan yang lebih agar tulisan yang dihasilkan bisa bernyawa. Tapi dalam menuliskan tulisan ilmiah, yang dibutuhkan adalah kemampuan kita dalam 'membumikan' pengetahuan-pengetahuan yang kita miliki agar bisa dipahami oleh para pembaca meskipun yang membaca bukan dari bidang ilmu yang sama. 

Hal yang menyamakan antara menulis tulisan ilmiah dan non ilmiah adalah semakin banyak kita membaca maka semakin bagus lah tulisan yang dihasilkan. Saat pertama kali menentukan topik skripsi, saya berdiskusi panjang lebar dengan dosen pembimbing (dosbing). Beliau memberi saya banyak pandangan terkait topik-topik yang menarik untuk dibahas. Sebenarnya saat itu saya ingin menulis skripsi 'sekedarnya' saja yang penting lulus seperti teman-teman lainnya :). Tapi kemudian dosen pembimbing menantang apakah saya berani kalau nantinya skripsi saya dibukukan. Saat itu saya ingin menolak, tapi kemudian saya mengingat kembali salah satu impian masa kecil bahwa saya ingin menjadi penulis buku. Mungkin ini bisa menajdi jalan pertama saya dalam menulis buku meskipun itu hasil skripsi :D akhirnya saya menyetujui tantangan beliau. 

Sejujurnya sejak awal menulis skripsi saya merasa sedikit terbebani karena dosen pembimbing berharap agar tulisan saya nantinya bisa dibukukan. Saya merasa punya beban yang berat karena merasa bahwa saya harus lebih serius dan tidak boleh main-main dalam menyusun skripsi. Di masa-masa awal penyusunan skripsi saya fokus pada penyusunan outline. Outline dalam tulisan ilmiah sama dengan alur cerita dalam tulisan fiksi. Tapi tidak berarti sebelum menemukan outline yang sesuai, kita tidak memulai menulis. Saya mulai menulis dan menyusun skripsi setelah menyusun outline untuk bab 1 dan setengah bab 2. 

Singkat cerita saya menghabiskan kurang lebih 6 bulan untuk menyusun skripsi yang terdiri dari 5 bab. Setelah itu saya menjalani ujian skripsi dan alhamdulillah berjalan sangat lancar :)). Terus apakah setelah itu skripsi saya langsung diterbitkan?  Hohoo tentu saja tidak XD Ketika teman-teman setelah lulus kuliah langsung fokus mencari kerja, maka saya masih lanjut bimbingan dengan dosbing untuk menjadikan skripsi saya menjadi layak terbit dan dipasarkan sebagai buku bacaan untuk semua kalangan :) Dimulai lah drama-drama dan kebingungan-kebingungan selanjutnya karena saya harus berusaha 'mengubah' kalimat perkalimat di skripsi saya menjadi lebih 'membumi'. Jujur saja saya merasa lebih sulit berada pada tahap ini dari pada ketika tahap penyusunan skripsi :')

Mengapa menurut saya lebih susah? Karena dalam bidang hukum sendiri ada banyak istilah-istilah yang kurang populer di masyarakat umum, selain itu susunan bahasa dalam tulisan hukum cenderung lebih kaku sehingga saya harus berusaha menjadikannya sebagai tulisan yang bisa dibaca orang pada umumnya. Selain itu yang menjadikan proses ini lama adalah saya harus menambahkan banyak hal baru, karena skripsi saya hanya sekitar 120 halaman, sedangkan untuk buku jumlah halaman segitu sangat lah sedikit. Tapi saya tidak menambahkan pembahasan tentang teori-teori lagi, saya menambahkan pembahasan tentang kasus-kasus yang terjadi dan bagaimana penyelesaiannya :)

Salah satu yang sangat membantu saya waktu itu adalah tim editor dari pihak penerbit buku. Mereka betul-betul membantu dalam beberapa bagian pengubahan bahasa dalam skripsi saya sebelum dibukukan. Fyi, buku itu bukan saya sendiri yang menyusun sepenuhnya. Pak Dosbing juga memasukkan beberapa hasil penelitian beliau di dalamnya dengan pertimbangan saya masih sangat hijau di dunia akademisi, masih remahan-remahan rempeyek di tengah lautan 😅 mungkin tidak akan ada yang mau membaca buku saya ketika hanya ada nama saya saja sebagai penulisnya 😂 

Buku saya diterbitkan oleh penerbit kampus yaitu Airlangga University Press, kebetulan penerbit kampus saya sangat produktif dalam menerbitkan buku baik dari pihak internal kampus atau pun pihak luar. Bagi teman-teman yang ingin menerbitkan skripsinya menjadi buku, bisa mulai mencari informasi di penerbit kampus masing-masing atau penerbit kampus lainnya yang sekiranya bisa menerima tulisan kita. 

Kesimpulannya, bagi teman-teman yang ingin membukukan skripsi atau karya ilmiahnya, beberapa hal ini yang bisa saya sarankan:

1. Menjaga hubungan baik dengan Sang Pencipta
Tidak dipungkiri semua usaha kita akan terasa mudah dan bermakna ketika kita selalu menjaga hubungan baik denganNYA J

2. Menjaga hubungan baik dengan dosen
Hal ini menjadi sangat penting karena orang pertama yang akan memberi kita masukan serta koreksian terhadap apa yang sudah kita tulis adalah dosen pembimbing kita atau pun dosen-dosen lainnya yang memiliki fokus pada bidang yang sama dengan topik yang kita tulis.

3. Bekerja keras dan bekerja cerdas
Penting untuk bekerja keras dan bekerja cerdas karena kita sedang menyusun sebuah karya yang akan dijadikan rujukan oleh banyak orang nantinya, jangan mudah menyerah ketika menemukan kesulitan dalam proses penyusunannya :)

4. Perbanyak baca buku referensi sesuai bidang ilmu
Berdasarkan pengalaman saya, dengan memperbanyak baca buku referensi di bidang hukum, saya bisa meraba-raba dan membiasakan diri menyusun kalimat yang efektif dan mudah dipahami meskipun yang kita buat adalah tulisan ilmiah. 

5. Mencari informasi terkait cara menerbitkan buku ilmiah
Ada beberapa penerbit di Indonesia yang memang fokus dalam menerbitkan tulisan ilmiah, teman-teman bisa mulai melihat-lihat buku seperti apa yang mereka terbitkan atau gampangnya, teman-teman lihat buku-buku referensi bahan kuliah yang teman-temana pakai itu diterbitkan oleh siapa. Dari situ bisa mulai mencari informasi bagaimana caranya memasukkan naskah untuk diterbitkan. Atau seperti saya, menerbitkan di penerbit kampus :)

6. Tingkatkan daya kepo sebaik mungkin


Iya, ketika menulis tulisan ilmiah, kita harus memiliki daya kepo atau rasa penasaran yang tinggi. Kita harus membiasakan otak kita berpikir secara runtut dan bertingkat. Selain itu harus kreatif dalam mencari keyword,  semakin kreatif kita dalam mencari keyword maka semakin kaya pula bahan atau referensi yang bisa kita baca :)

Kurang lebih begitulah perjalanan singkat saya dalam membukukan skripsi :))


Ditulis di Jakarta, dibaca di mana saja

Comments

Popular posts from this blog

Uang Panai’: Kasih Tak Sampai Para Bujang Bugis

Sebuah Dilema Menjadi Mahasiswa Baru pada Fakultas Hukum dan Cara Mengatasinya

Pajak Daerah dan Strategi Awal Pelaksanaan Inovasi Pelayanannya