Sebuah Dilema Menjadi Mahasiswa Baru pada Fakultas Hukum dan Cara Mengatasinya

Tidak dipungkiri ketika mulai menjadi bagian dari Fakultas Hukum, maka bersiap-siaplah diberi julukan “ahli hukum gratisan”. Ketika pertama kali memutuskan untuk manjadi mahasiswa hukum, sebenarnya secara tidak langsung kita semua sudah siap untuk menjadi sumber jawaban dari permasalahan hukum yang ditanyakan orang-orang terdekat. Ketika berkumpul dengan keluarga besar, bersiap-siaplah untuk diminta pendapat terhadap suatu kasus yang sedang hits di media. Biasanya om-om atau tante-tante bahkan orang tua sendiri yang selalu penasaran ingin mengatahui jawaban kita sebagai mahasiswa hukum. Kelihatannya berat yah bebannya, karena kita mahasiswa hukum di tahun awal-awal perkuliahan sama sekali belum belajar mengenai kasus-kasus yang aplikatif. Ilmu yang kita dapat masih seputar teori-teori, pandangan-pandangan dan sejarah-sejarah perkembangan hukum di Indonesia dan di dunia. Tapi kehidupan sosial di mana orang-orang di sekitar menganggap kita memiliki kompetensi untuk memberi pendapat dan jawaban. Mungkin sama halnya dengan mahasiswa kedokteran. Masih tahun pertama tapi harus siap ketika ditanya oleh tetangga ‘ehh anakku udah dua hari ini nangis terus, ngga mau makan, kira-kira dia sakit apa yah?’ pertanyaan yang terlihat sederhana. Tapi tentu saja bagi mahasiswa kedokteran yang baru saja belajar, belum punya kapasitas mumpuni untuk menjawab pertanyaan itu.

Solusinya bagaimana? Karena dipastikan kita tidak bisa hanya menjawab ‘wahh maaf om, tante, pakde, bude, pelajaran saya belum sampai situ’. Orang-orang tidak akan peduli sampai di mana pelajaran kita atau mata kuliah apa saja yang sudah kita tempuh. Bagi mereka, mendengar pendapat kita apapun itu, sudah cukup melegakan. Berikut adalah beberapa solusi bagaimana menghadapi situasi ketika ditanya tentang permasalahan hukum yang sedang hits atau permasalahan hukum yang umum terjadi di masyarakat.

Open Minded
Berpikirlah secara terbuka. Open minded itu perlu, tidak perlu paham ilmunya secara mendalam, cukup pahami saja sesuai kebutuhan. Misalnya sedang ada isu koruptor yang banyak tertangkap tangan, tidak perlu susah-susah mempelajari undang-undang anti korupsi dan menelaah satu persatu pasalnya kemudian menjelaskan kepada mereka dengan detil mengenai pasal-pasal apa yang akan dikenakan kepada mereka. Cukup dengan memberi komentar secukupnya mengenai korupsi yang memang menjadi isu utama di negara ini atau berkomentar bahwa dengan tertangkap tangan seperti itu tidak menjamin bahwa dia akan terbukti menjadi terpidana karena masih panjang tahap yang dilalui. Jadi berpikirlah seterbuka mungkin sehingga bisa melihat sebuah isu hukum dari berbagai sisi.

Jangan Sok Tahu
Biasanya mahasiswa itu, apalagi mahasiswa hukum cenderung memiliki jiwa debat yang bagus. Itu sah-sah saja karena kita memang dituntut untuk menjadi seorang yang bisa memberi argumentasi dengan baik. Ketika ada seseorang yang bertanya tentang permasalahan hukum sederhana, jangan menjawab dengan berusaha terlihat tahu dan paham padahal sebenarnya tidak tahu. Hal yang riskan ketika kita mengedukasi orang awam mengenai pengetahuan hukum yang kita sendiri juga belum paham ilmunya dengan baik. Jadi memang pilihannya adalah dengan memberi jawaban secukupnya atau jujur mengatakan bahwa memang belum terlalu paham dengan isu itu. Percayalah orang-orang atau keluarga kita akan sangat maklum karena memang kita masih mahasiswa, belum menjadi seorang praktisi yang ekspert di bidang itu.

Banyak Membaca
Memilih masuk Fakultas Hukum tapi malas membaca? Mungkin lebih baik dipikir ulang sebelum semuanya terlambat. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa FH adalah fakultas hapalan. Perkiraan yang tidak salah tapi juga tidak tepat karena faktanya menjadi mahasiswa hukum sama sekali kita tidak dituntut untuk menjadi seorang penghapal, tapi wajib menjadi pembaca. Sebagai maba, sebaiknya asahlah kemampuan membaca dengan sebaik mungkin. Hal itu juga akan bermanfaat ketika menghadapi situasi yang saya sebutkan di atas.

Banyak Berdiskusi
Membaca akan memberi kita ilmu baru, tapi dengan berdiskusi akan membuat ilmu itu terasa lebih nyata dan aplikatif. Ketika berdiskusi, kita akan mendengar banyak pendapat dari orang lain, tidak hanya pendapat tapi juga ilmu baru yang mungkin belum sempat kita baca tapi orang lain sudah membacanya. Sehingga ketika kita banyak berdiskusi, apalagi terkait isu-isu hukum yang sedang ramai dibicarakan di masyarakat, kita bisa memberi sedikit pandangan sederhana ketika ada orang yang bertanya tentang isu itu.

Perbanyak Senyum
Image masyarakat terhadap orang yang berkecimpung di dunia hukum adalah sosok yang serius dan kaku. Mumpung masih maba, mulailah perbanyak senyum ketika dihadapkan pada situasi seperti di atas. Jangan sampai kita terlalu ngotot, serius dan kaku ketika menjawab pertanyaan mereka. Lagi-lagi mereka hanya ingin mengetahui jawaban secara sederhana, maka berilah jawaban dengan tenang, santai dan penuh dengan senyuman. Setidaknya dimulai dari keluarga terdekat kita, pandangan tentang orang hukum yang kaku, serius bahkan sadis akan berubah.

Percayalah menjadi seorang mahasiswa hukum akan sangat menyenangkan ketika kita bisa menjadi seseorang yang bisa menyampaikan ilmunya dengan sederhana dan bisa dipahami oleh masyarakat umum. Di blog ini saya akan mencoba menuliskan pembahasan-pembahasan sederhana tentang kehidupan mahasiswa hukum dan memberi ulasan terkait permasalahan hukum serta pengetahuan hukum dengan cara yang menyenangkan dan sederhana.


Oleh,
Lulun Khairunnisa (Jurist Story)


Comments

  1. Pengalamanku, dlu aq smester 1 hkum. Tetangga ada yg nanya gini "Ada orang yg berusaha nyuri semangka di kebun, trs ketahuan sama pemiliknya lalu dilempar kayu sama pemiliknya, terus malah pemilik semangka yg dilaporkan krna penganiayaan"

    Susah bgt kan?? Haha
    Emng tulisan ini realita bgt.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Uang Panai’: Kasih Tak Sampai Para Bujang Bugis

Pajak Daerah dan Strategi Awal Pelaksanaan Inovasi Pelayanannya