Melalui Blog, Saya Belajar Mencintai Diri!

source: chibird.com

“Apa kamu, sekolah tinggi-tinggi tapi pengangguran!!!”

Bentakan keras yang masih terngiang hingga saat ini, padahal sudah beberapa bulan berlalu sejak kalimat itu diucapkan. Mungkin ungkapan “ibarat hati ditusuk belati” adalah yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana sakitnya setelah mendengar bentakan itu dikeluarkan oleh orang yang darahnya mengalir padaku, papa. Hal yang menyakitkan lainnya adalah kalimat itu diucapkan hanya karena sebuah gorengan. Hah? Gorengan apa yang bisa membuat seorang bapak bisa menyakiti hati anaknya sebegitu dalam? Mari saya kenalkan dengan si gorengan politik. Saya belum menentukan pilihan antara nomor 1 atau 2, tapi sepertinya beliau sudah memakan berbagai jenis gorengan-gorengan politik sehingga membuatnya sungguh totalitas dalam mendukung salah satu pasangan calon.

Pagi itu, beberapa saat sebelum kalimat itu dibentakkan, saya hanya mencoba memberi pandangan yang cukup netral mengenai kedua pasang calon, tapi sepertinya fanatik sudah menjadi nama belakang beliau. Seketika beliau tersinggung karena merasa saya tidak mendukung pasangan calon  yang beliau idolakan sehingga terucaplah kalimat yang hingga saat ini masih sering terngiang-ngiang di kepala saya. Rasa-rasanya gorengan politik ini benar-benar berbahaya sekali, hubungan-hubungan yang jauh telah ada sebelum kampanye dimulai bisa menjadi renggang. Tapi bukan itu inti dari tulisan saya kali ini, mungkin tidak akan cukup tiga postingan di blog kalau ingin membahas fenomena sosial yang diakibatkan oleh gorengan politik di negara yang (mungkin) kita cintai ini.

Pada postingan kali ini saya akan mencoba sedikit berbagi kisah dan harapan saya untuk menjadi seseorang yang lebih mencintai diri sendiri. Karena kalimat tajam di atas secara tidak langsung membuat saya kehilangan rasa cinta akan diri saya sendiri. Kalau mencintai diri sendiri saja saya belum bisa, bagaimana saya bisa mencintai orang lain? Apakah itu pertanda status single saya akan bertahan lebih lama lagi? Hiks ini tidak bisa dibiarkan, saya harus mencari jalan keluarnya. Kalimat papa tersebut membuat saya semakin sering bertanya-tanya “sebenarnya apa sih tujuanku hidup?” “sebenarnya bermanfaat ngga sih hidupku?” “aku bodoh yah? Aku ngga berguna yah karena aku kerjanya ngga di kantor kayak teman-teman lainnya?” semua pertanyaan-pertanyaan terkait self-worth itu semakin mendominasi pikiranku, sehingga membuat self-love pada diriku pun menurun drastis. Bahkan sampai pada titik saya merasa takut dan malu untuk bertemu teman-teman baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Iya, saya terbelenggu dalam perasaan takut dan terlalu over-thinking karena khawatir mungkin teman-teman saya atau orang-orang yang pernah mengenal saya akan membatin atau bahkan membicarakan saya “Wahh Lulun kan dulu hebat, pinter, aktif, berprestasi, tapi kok kerjanya ngga bagus yah? Cuma gitu doang” Rasanya bangkit dari kekhawatiran itu tidak mudah, hingga kemudian saya menemukan salah satu cara yang paling efektif adalah melalui blog. Iya, menjadi blogger membuat saya lebih mencintai diri apa adanya.

Belajar dari Langit, Selalu Memberi Manfaat Pada Segala Situasi

Source: koleksi pribadi

Malam itu ketika waktu wilayah Indonesia bagian barat berada di angka sembilan, tiba-tiba ada sebuah pesan masuk ke whatsapp saya, "Wahh Lun tulisanmu yang ini ngena banget, berasa lagi ada di lokasi tersebut dengerin ibunya cerita langsung" pesan seorang teman mengomentari status whatsapp saya yang berisi tautan tulisan yang beberapa jam sebelumnya saya unggah di blog. Di lain kesempatan, masih tulisan yang sama, kakak saya membagikan tautan tulisan saya itu pada status whatsapp-nya, tidak disangka-sangka beberapa orang temannya mengatakan bahwa link tulisan yang dia bagikan sungguh bermakna dan mengena sekali. Beberapa tanggapan dan komentar dari orang-orang yang membaca tulisan saya itu secara tidak langsung memberi dampak luar biasa.

“Wahh bener banget yang kamu tulis itu, jleb banget”, “Bagus tulisannya, saya suka” “Wahh Lun I can relate” dan beberapa respon lainnya terhadap tulisan-tulisan saya di blog, tidak banyak memang jumlahnya, responnya pun biasa saja mungkin. Tapi percaya lah, respon-respon itu yang memberi saya dorongan untuk terus menulis di blog dan terus meningkatkan kapasitas diri menjadi seorang narablog yang lebih baik lagi.

Mungkin bagi beberapa orang, apalagi yang sudah ahli di dunia blogging dan tulis menulis, mendapat komentar positif bukan lagi hal yang wah dan luar biasa. Tapi bagi saya yang hanya seorang pemula di dunia kata-kata ini, respon positif tersebut sangat berarti. Respon sederhana dari orang-orang yang mengunjungi blog saya membuat perasaan yang seringkali mempertanyakan self-worth itu berkurang. Rasa optimis dan keinginan untuk terus menuliskan hal yang bermanfaat semakin meningkat. Meskipun dalam kondisi yang mungkin bagi orang lain biasa-biasa saja, tidak ada yang bisa dibanggakan, saya mencoba untuk terus memberi manfaat sekecil apapun itu.

Ibarat langit ketika hujan, akan ada beberapa orang yang mengeluh karena kebasahan sehingga tidak bisa beraktifitas dengan baik. Di sisi lain, hujan yang diturunkan langit memberi manfaat terhadap banyak hal lainnya. Langit ketika terik, membuat orang-orang mengumpat karena kepanasan dan mudah lelah. Tapi di sisi lain teriknya langit memberi pengaruh besar pada orang-orang yang membutuhkan panasnya sinar matahari untuk menunjang pekerjaan mereka. Mungkin perumpamaan yang saya tuliskan terlalu biasa saja, tapi begitulah hidup, terkadang hal-hal yang terlihat biasa bisa mengajarkan kita nilai-nilai kehidupan yang luar biasa. Demikianlah langit mengajarkan saya untuk terus memberi manfaat kepada siapapun dan sebesar apapun meskipun kondisi terkadang tidak baik. Menjadi blogger lah salah satu cara termudah yang bisa saya lakukan saat ini untuk terus menjadi sebaik-baik manusia, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain (HR.At-Thabrani). Manfaat kecil yang saya beri pada setiap tulisan di blog, membuat diri ini semakin merasa berharga dan saya perlahan mulai mencintai diri saya kembali. Di situlah saya merasa bangga dan bersyukur menjadi seorang blogger.

Mengalahkan Musuh Terbesar

Source: chibird.com

Saya pernah membaca tulisan salah seorang emak blogger handal, dia mengatakan bahwa menulis blog itu intinya cuma satu, konsisten. Iya, harus konsisten menulis dan mem-posting sesuatu di blog secara rutin. Rasa-rasanya hal itu terdengar mudah saja untuk dilakukan, tidak perlu banyak-banyak, cukup minimal satu tulisan setiap pekan. Wow tapi ternyata penerapannya tidak semudah itu Ferguso (ada yang bisa membantu saya kenapa Ferguso kembali tenar belakangan ini?). Pada paragraf atas saya menyebutkan bahwa blogging adalah cara termudah bagi saya untuk menjadi orang yang bermanfaat dan lebih mencintai diri saya sendiri. Tapi ternyata tidak semudah itu, ada musuh besar yang harus saya hadapi dan saya kalahkan, yaitu diri saya sendiri. Memang saya menyadari diri ini besar, tapi bukan besar itu yang saya maksud di sini hehe. Musuh terbesar setiap manusia ada pada dalam diri kita masing-masing, tidak perlu jauh-jauh mencarinya. Sedangkan apakah yang menjadikan diri ini sebagai musuh terbesar dalam blogging? Jawabannya sederhana, rasa malas dan kebiasaan menunda-nunda.

Rasa-rasanya terlalu muluk-muluk apabila saya menuliskan harapan untuk menjadi blogger profesional dan mengumpulkan pundi-pundi rupiah melalui juriststory.com ini, apabila saya belum bisa mengalahkan si musuh terbesar itu. Saya belum berani untuk menuliskan harapan-harapan besar saya untuk blog ini, rasanya dedek-dedek selebgram di luar sana akan menertawakan saya kalau menuliskan harapan tinggi-tinggi tapi untuk menuliskan satu dua parargraf secara rutin saja saya masih ogah-ogahan. Mudah ditebak bukan? Yup benar sekali, harapan saya cuma satu, ingin bisa mengalahkan sang musuh terbesar sehingga blog ini bisa lebih berkembang dalam memberi manfaat seluas-luasnya.

Tidak, saya bukan pesimis sehingga tidak menuliskan harapan-harapan saya untuk blog ini seperti blogger-blogger lainnya, saya hanya mencoba lebih realistis. Demikianlah keadaanya, saya harus berjuang melawan rasa malas dan ogah-ogahan dalam menulis, bahkan saya harus memaksa diri  ini untuk mengikuti berbagai program tantangan-tantangan menulis agar blog ini bisa tetap bernapas dengan baik.

Source: moneyhomeblog.com

Menjadi blogger bukanlah cita-cita utama saya. Cita-cita utama saya adalah menjadi seorang perempuan pembangun generasi bangsa, terlalu klise yah? Tapi begitulah adanya, blog bisa membantu saya mencapai cita-cita tersebut karena dengan terus menulis di blog, membuat saya lebih mencintai diri sendiri. Dengan mencintai diri sendiri, maka saya akan dengan mudah mencintai orang lain, sehingga pada akhirnya saya bisa meraih cita-cita menjadi perempuan pembangun generasi bangsa. Sebab akibat yang sangat panjang dan berliku-berliku sepertinya, tapi tidak masalah, karena anda yang membaca tulisan ini pasti bisa memahaminya dengan sangat baik J


Ditulis di Jakarta, 22 Januari 2019
Dibaca di mana saja, kapan saja

Andi Akhirah Khairunnisa                           



Comments

  1. Ditulis di Jakarta, 22 Januari 2019
    Dibaca dan dikomentari di Jambi, 23 Januari 2019

    Blog membuat Jambi-Jakarta terasa dekat, kan hehe. Suka banget sama paragraf akhir tentang mencintai diri sendiri, termasuk mengalahkan rasa insecure di dalam diri. Semangat ya mbak, punya penghasilan dari blog itu bukan harapan muluk. Pasti bisa, salah satunya dengan mengikuti lomba seperti ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh terima kasih Kak sudah berkunjung 😊 iyaa semoga bisa perlahan mencoba peruntungan mengumpulkan rupiah dari blog :) saya sudah duduk paling depan dan menyimak beberapa tulisan Kakak... Blognya keren, sungguh produktif 😁😊

      Delete
  2. Ditulis di Jakarta, 22 Januari 2019
    Dibaca dan dikomentari di Situbondo, 29 Januari 2019

    Bener banget kak, dari blog pun aku merasa lebih mencintai diri sendiri dan dapat melawan rasa ketidaknyamanan terhadap keadaan (apasih haha) pokokna mah tetap semangattttt yah kak hehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perasaan luar biasa yang mungkin semua blogger alami namun tidak semua menyadarinya :D terima kasih Kak sudah singgah... Sukses selalu untuk Kak Joe Candra, saya belajar banyak dari Blog Kakak :)

      Delete
  3. Hai, salam kenal. Wah, saya paham banget yang kamu rasakan mbak hehe kayaknya ini masalah umum generasi millennial versus generasi X. Orang tua memang punya keterbatasan wawasan karena mereka nggak mengalami berbagai penetrasi teknologi dan internet seperti kita. Agar bisa membuat mereka percaya, perlu 2 hal: konsisten dan berkembang. Semoga terus berkarya dan bermanfaat ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal Mbak Nabila, mungkin memang sebagai anak kita tidak perlu membantah omongan orang tua, cukup membuktikannya dengan prestasi yang kita raih :) ngomong-ngomong saya juga sarjana hukum Mbak, jadi rasanya senang gitu ketika tau ada sarjana hukum yang bisa sukses di dunia blogging :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Uang Panai’: Kasih Tak Sampai Para Bujang Bugis

Hikmah di Balik Ramainya RUU Permusikan