Nyinyirlah Sebelum Nyinyir itu Dilarang

sources: juriststory.com


Sebagai seorang (calon) jurist, saya kadang memiliki pemikiran-pemikiran tidak umum bahkan tergolong aneh mengenai dunia yang saya geluti ini. Masih teringat tahun 2011 silam saat saya mengikuti ospek tingkat universitas, saat itu kami diberi tugas menyusun ide PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa). Saat itu karena menganggap diri ini adalah mahasiswa hukum, maka saya harus mencetus ide terkait dunia hukum juga. Dengan jiwa idealisme yang tinggi dan semangat yang menggebu-gebu, saya mencetuskan sebuah ide yang intinya adalah menciptakan alat pencegah kebohongan yang dipasang pada diri setiap penegak hukum dan pejabat pemerintahan.

Alat ini akan berfungsi ketika ada itikad buruk yang timbul dalam hati. Bagaimana cara bekerjanya? Cara kerja alatnya simpel, saya percaya bahwa setiap manusia di bumi ini memiliki hati nurani, intuisi yang tidak pernah mengingkari. Ketika mulai muncul niat tidak baik untuk melakukan sebuah tindakan melawan hukum, alat ini akan bekerja seiring berubahnya degup jantung dan aliran darah sehingga orang tersebut akan mencegah untuk melaksanakan niat buruk itu. Kalau dipikir-pikir lebih lanjut, ide ini terdengar tidak masuk akal dan penerapannya akan sulit serta akan penuh kontroversi tentunya, tapi ternyata ide saya itu termasuk ide yang terpilih untuk dipaparkan di depan seratusan mahasiswa dari seluruh fakultas. Kala itu bahagia sih tentu saja, tapi yah cukup bahagia sesaat saja karena saya sadar kalau ide itu sungguh aneh haha. Rasanya memang ide yang aneh itu selalu menarik perhatian, semakin aneh sebuah ide, semakin besar pula hambatan untuk mewujudkannya, seperti ide aneh saya delapan tahun silam itu, yang hanya akan tetap dikenang sebagai ide, tidak lebih.

Saat ini saya mencoba lebih realistis  dalam beride dan beropini, tidak sekedar angan-angan absurd bin abstrak semata. Ide saya yang ini masih sedikit ajaib tapi masuk akal untuk diwujudkan. Ide ini muncul seiring bertambahnya usia dan matangnya empati dalam hidup bermasyarakat. Saya menamakan ide ini dengan “Undang-Undang Nyinyir”. Saya berpikir bahwa tradisi nyinyir yang terjadi di Indonesia tidak bisa dibiarkan berlarut-larut begitu saja. Banyak akibat buruk yang bisa ditimbulkan oleh nyinyir, kegiatan yang terlihat sederhana itu ternyata dampaknya tidak sederhana.


Mental vs. Fisik
Salah satu alasan Guy Winch menulis buku best seller “Emotional First Aid” atau diterjemahkan dengan Pertolongan Pertama pada Emosi Anda karena selama ini kita sering menyampingkan sakit mental atau emosi yang ada dalam diri kita. Saat kita terjatuh, terkena pisau, tersiram minyak panas, maka dengan mudah kita tau pertolongan pertama apa yang bisa kita lakukan untuk menyembuhkannya. Namun saat mental atau emosi kita yang sakit? Apakah kita juga tau bagaimana cara mengobatinya? Kita seringkali tak menghiraukan perasaan sedih, kecewa, marah, karena menganggap akan sembuh dengan sendirinya. Tapi ternyata tidak, sakit-sakit mental dan emosi yang terlihat sederhana itu akan menumpuk dan semakin membesar hingga dapat menyebabkan akibat terburuk, membunuh fisik, baik dengan timbulnya penyakit-penyakit fisik atau dengan paksa yakni bunuh diri.

sources: crazyheadcomics

Percaya tidak percaya, salah satu penyebab terbesar dari mental illness adalah faktor lingkungan dan sosial. Tentu saja nyinyir adalah salah satu faktor sosial yang bisa membuat seseorang terganggung kesehatan psikisnya. Sampai di sini, apakah akan timbul pertanyaan “ahh masa karena dinyinyirin gitu aja langsung stress? Ngga kuat banget sih mentalnya” wahh kalau iya, maka sebaiknya hentikan pertanyaan dan pemikiran itu. Sebagai manusia, kita diciptakan berbeda. Jangan kira hanya fisik dan DNA nya saja yang beda, jiwa, mental, kekuatan, kelemahan, sifat, semuanya berbeda. Jangan sampai timbul pemikiran-pemikiran “ahh masa gitu aja ngga bisa, ahh masa gitu aja nangis, ahh masa gitu aja baper”. Karena memang, saya, anda, dia, mereka, semuanya berbeda. Kita tidak bisa membandingkan kemampuan diri kita dengan kemampuan orang lain.

Hubungan Nyinyir dan Kehidupan Bernegara
Masih ingat dengan kasus seorang alumni dari salah satu kampus terbaik di negeri ini, yang menyandang banyak gelar, namun tidak bekerja, kemudian ditemukan bunuh diri? Masih ingat dengan banyaknya kasus para calon ibu yang hamil di luar nikah, kemudian memilih mengakhiri nyawanya bersama bayi di kandungan? Atau kasus-kasus sederhana yang membuat orang kehilangan kepercayaan dirinya dengan sangat drastis. Rasa-rasanya tidak perlu saya tanya kira-kira alasannya apa. Kita semua tau alasan itu terjadi adalah, mereka takut dengan omongan-omongan serta nyinyiran-nyinyiran orang lain. Menyedihkan yah fakta tersebut? Tapi begitulah kenyataanya, omongan-omongan kita bisa menjadi penyebab rusaknya mental seseorang.

Menurut artikel yang dimuat dalam VerywellMind, salah satu alasan yang menyebabkan orang bunuh diri adalah rasa takut atau kehilangan, kemudian dijabarkan secara rinci, rasa takut itu bisa berwujud bullying, humiliation, shaming dan hal-hal lainnya yang disebabkan oleh faktor kehidupan sosial. Tradisi nyinyir rasa-rasanya sudah menjadi makanan sehari-sehari penduduk negeri ini. Dunia maya, dunia nyata, di desa, di kota, semua penduduknya memiliki hobi yang sama, hobi nyinyir. Sungguh keresahan yang saya rasakan tidak hanya sekedar angin lalu saja. Keresahan inilah yang mencetuskan ide bahwa pemerintah harus ikut andil dalam kegiatan nyinyir. Maka tercetuslah ide untuk membuat hukum yang mengatur tentang nyinyir.

Sebagai orang yang berada dalam dunia hukum, saya memahami bahwa membuat sebuah aturan apalagi undang-undang tidaklah mudah. Namun, apa salahnya untuk beropini? Mungkin ada salah seorang di antara kalian yang bisa membantu saya mewujudkannya. Dalam benak saya, kejahatan fisik terhadap orang lain, bisa kita laporkan ke pihak berwajib, nahh kenapa kejahatan mental tidak bisa? Faktanya, kejahatan fisik biasanya dilakukan oleh satu atau paling banyak sekitar lima orang. Tapi kejahatan mental? Pelakukan ada puluhan bahkan ratusan dengan satu korban saja. Saat seseorang melakukan suatu kesalahan, hamil di luar nikah misalnya, kira-kira siapa yang akan membicarakannya? Siapa yang akan nyinyir? Cukupkah satu orang saja? Tentu saja tidak, yang akan nyinyir adalah satu kampong atau satu wilayah seluruh penduduk daerah itu.

Atau misalnya, kasus istri atau anak artis yang fisiknya tidak sesuai dengan pandangan masyarakat. Maksudnya, seharusnya anak atau pasangan artis itu memiliki wajah cantik, langsing dan tinggi semampai, itu lah yang orang-orang nyinyir pikirkan. Lantas mereka menghujat dan member komentar-komentar negatif tentang fisik keluarga artis tersebut. Mungkin memang saat ini pelaku cyberbullying bisa dikenakan UU ITE, tapi lagi-lagi itu tidak memberi efek jera. Masih saja banyak kita temukan di sekitar kita hal-hal seperti itu. Maka menurut saya, salah satu cara paling efektif adalah dengan membuat sebuah aturan hukum khusus yang secara eksplisit mengatur tentang nyinyir.

sources: health_anxiety


Lembaga Anti Nyinyir
Dalam benak saya, aturan tentang nyinyir ini tidak hanya mengatur tentang ancaman pidana saja, namun sanksi lainnya akan diberlakukan terlebih dahulu secara bertahap sesuai tingkat keseriusan antara nyinyir dan akibat yang disebabkan. Selain itu, dalam rangka mendukung agar aturan ini berjalan dengan efektif, maka diperlukan adanya lembaga pelaksana. Cara kerjanya bisa disamakan dengan Komnas HAM atau Komnas Perlindungan Perempuan dan Anak. Masyarakat dapat melaporkan langsung apabila mereka menjadi korban atau menjadi saksi adanya kegiatan nyinyir di sekitar. Selanjutnya Lembaga Anti Nyinyirlah yang akan melakukan proses investigasi secara langsung.

Dalam lembaga ini akan melibatkan berbagai stakeholders yang akan bersama-sama membantu korban atau orang-orang yang mendapat nyinyiran-nyinyiran dan sekitarnya, baik dalam dunia nyata maupun dunia maya. Lembaga ini akan memfasilitasi para korban dan memastikan bahwa emosi dan mentalnya kembali sehat.

Mungkin ide saya terdengar aneh dan kurang masuk akal, tapi saya yakin, masih banyak orang-orang baik di negeri ini yang peduli, tidak hobi nyinyirin dan mencampuri hidup orang lain.


Ditulis di Jakarta, 30 Januari 2019
Dibaca di mana saja, kapan saja


Andi Akhirah Khairunnisa

Comments

Popular posts from this blog

Uang Panai’: Kasih Tak Sampai Para Bujang Bugis

Sebuah Dilema Menjadi Mahasiswa Baru pada Fakultas Hukum dan Cara Mengatasinya

Hikmah di Balik Ramainya RUU Permusikan