Uang Panai’: Kasih Tak Sampai Para Bujang Bugis

“Lun, nanti kalau kamu nikah, pake uang panai’ juga ngga?” “Nanti kamu kalau nikah berapa yah uang panainya?”

Pertanyaan di atas sering saya peroleh dari beberapa orang teman baik perempuan maupun laki-laki. Sebagai orang Bugis asli yang merantau di Pulau Jawa, seringkali membuat teman-teman saya di rantau penasaran tentang hal itu. Uang Panai’, mungkin bukan hal yang asing lagi di telinga banyak orang, khususnya orang Sulawesi Selatan. Tapi tidak semuanya paham dengan esensi dari uang panai’. Sederhananya, uang panai’ adalah uang belanja, berbeda dengan uang mahar. Biasanya uang panai’ ini akan digunakan untuk segala hal yang berkaitan dengan resepsi pernikahan. Tapi ternyata banyak yang menilai negatif terkait uang panai’ ini, khususnya orang di luar Sulawesi Selatan. Tidak sedikit teman-teman saya menilai bahwa tradisi uang panai’ terlihat seperti ‘jual beli anak’. Persepsi yang tidak salah tapi tidak sepenuhnya benar juga.

sources: adi-akbar.blogspot.com


Sebagai orang berdarah Bugis asli, uang panai’ bukanlah hal yang asing di telinga saya. Dari dulu sudah sering saya mendengar percakapan orang-orang tua yang membahas tentang uang panai’ ketika ada salah satu anggota keluarga yang ingin menikah. Seringkali penentuan uang panai’ dinegosiasikan oleh keluarga kedua belah pihak calon mempelai. Iya, yang bernegosiasi adalah pihak keluarga, pasangan yang akan menikah tidak mengambil peran besar dalam penentuan ini. Di sinilah sering kali terjadi banyak kisah kasih tak sampai para pemuda pemudi Bugis, uang panai’ yang terlalu tinggi sehingga pihak keluarga pria tidak sanggup memenuhi, gengsi yang melangit sehingga pihak keluarga perempuan akan meninggikan uang panai’.

Entahlah, bahkan hingga saat ini saya masih sering bertanya-tanya alasan apa dibalik ‘gengsi’ dalam penentuan uang panai’, karena semua tolok ukurnya adalah hal-hal yang berbau duniawi. Hal pertama yang selalu dijadikan penentu dari jumlah panai’ adalah “anaknya siapa”, si perempuan apakah anak bangsawan? Apakah anak pejabat? Atau anak orang kaya?. Tolok ukur kedua adalah “pendidikannya apa”, apakah si perempuan lulusan S1? Lulusan S2? Atau mungkin lulusan S3?. Tentu saja semakin tinggi pendidikannya maka semakin mahal pula uang panai’nya. Ketiga adalah “pekerjaannya apa”, semakin wahh pekerjaannya maka semakin tinggi pula uang panai’ yang diajukan oleh pihak mempelai wanita. Belum lagi fisik, semakin cantik tentu saja uang panai’nya semakin mahal. Bukankah hal-hal itu semuanya bersifat duniawi dan gengsi semata? Entahlah, saya tidak berani berkomentar panjang lebar, karena lagi-lagi itu semua akan dikembalikan pada alasan budaya dan wujud penghargaan pihak keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan.

Saya akan menceritakan beberapa kisah tentang uang panai’ yang terjadi di sekitar saya. Ada beberapa orang perempuan yang saya kenal dekat, di usianya yang sudah mencapai empat puluh ke atas bahkan lima puluh, hingga saat ini belum menikah. Apakah saya di sini menjadi netizen nyinyir yang mengomentari hidup orang? Toh jodoh di tangan Tuhan, apa hak saya menilai kenapa seseorang belum menikah? Tidak ada tentu saja. Tapi faktanya, perempuan-perempuan tersebut bersaudara. Dan mereka belum menikah hingga usia menjelang setengah abad. Apakah itu wajar? Mungkin wajar, karena di Bugis ‘harga perempuan’ itu mahal. Mereka adalah perempuan-perempuan berdarah biru, anak pejabat, sekolahnya bagus, kerjanya bagus, kira-kira dari penentuan uang panai’ yang saya jelaskan di atas, apakah ada laki-laki yang berani melamar mereka? Mungkin ada tapi jarang, hingga akhirnya di usia paruh baya mereka masih hidup sendiri.

Ada kisah lainnya, seorang keluarga dekat saya akhirnya berhasil menemukan jodohnya dan menikah di usia pertengahan tiga puluhan setelah berpuluh-puluh kali di lamar dan semuanya ditolak. Tau kan alasannya apa? Uang panai’. Kerabat saya ini juga anak bangsawan, anak pejabat, lulusan S2 dan kerjanya bagus. Sejak umur dua puluhan awal dia sudah dicarikan dan mencari jodoh, tapi mayoritas pria-pria itu mundur karena alasan lagi-lagi uang panai’. Kisah lainnya, ada pasangan yang telah berpacaran beberapa tahun, karena si perempuan tahu bahwa keluarganya akan meminta uang panai’ yang tinggi, maka dia berinisiatif dengan pacarnya untuk menabung. Iya, mereka menabung bersama untuk uang panai’ agar pihak keluarga laki-laki tidak merasa terlalu berat. Belum lagi kisah orang yang meminta uang panai’nya dikembalikan karena mereka bercerai hanya dalam hitungan beberapa bulan pernikahan. Banyaknya uang panai’ yang diberikan membuat keluarga pihak laki-laki merasa rugi karena mereka bercerai, akhirnya meminta kembali uang yang dikeluarkan.

sources: kaskus.co.id

Bukankah contoh-contoh di atas memang terlihat seperti “jual beli anak”? tapi saya sebagai orang Bugis asli, saya tidak sepenuhnya menolak tradisi ini. Solusi terbaik adalah dengan menyamakan konsep pemberian panai’ dengan mahar. Kalau dalam islam, disebutkan bahwa sebaik-baik wanita adalah yang merendahkan maharnya dan sebaik-baik pria adalah yang meninggikannya. Terlihat adil bukan? Tidak merendahkan siapapun dan tidak memberatkan siapapun. Pihak keluarga perempuan cukup mengatakan “semampunya berapa”, maka pihak keluarga laki-laki tidak akan merasa terbebani tapi tetap akan memberi dengan maksimal semampu mereka.

Orang tua saya pun mulai menerapkan hal itu sejak pertama kali menikahkan kakak saya dulu. Mama papa tidak mematok jumlah uang panai’ dan memberi pilihan bebas semampunya berapa. Akhirnya hal tersebut menjadi win win solution bagi kedua belah pihak. Dan hal tersebut tidak akan membuat pihak keluarga seperti saling berdagang tawar menawar harga. Pihak keluarga perempuan tetap merasa dihargai dan pihak keluarga laki-laki tidak akan terbebani. Tapi sepertinya belum semua orang bugis bisa menerapkan solusi seperti ini. Saya harap semoga nantinya uang panai’ tidak menjadi momok dan beban para bujang bugis untuk menikah. Karena bagaimanapun, sebagai orang yang beragama, akhlak baik harus tetap menjadi pertimbangan pertama sebelum memilih calon pasangan, bukan dari hal-hal duniawi yang saya sebutkan di atas.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di awal tadi yang sering saya dapat dari teman-teman, biasanya saya menjawab “Yahh kalau nikahnya dengan orang Bugis juga tetap pake uang  panai’ lah, tapi kalo ngga sama orang bugis, ngga pake kok, palingan uang resepsi aja secukupnya haha”. Memang hingga saat ini mengubah persepsi orang tua mengenai pernikahan itu susah. Karena tidak dipungkiri para orang tua ingin merayakan hari bahagia anak-anaknya dengan maksimal. Tapi apakah harus dengan cara berlebihan? Itu lah PR kita bersama (yang masih jomblo) untuk terus mendiskusikannya dengan orang tua. Tapi saya mulai berhasil sih karena orang tua khususnya mama setuju untuk resepsi pernikahan cukup makan-makan aja di restauran, tidak perlu heboh-heboh sewa gedung , dekorasi, katering, dan lain-lain XD  Jadi.... jodoh mana jodoh??? Wkwkwk


Ditulis di Jakarta, pada 24 Januari 2019
Dibaca di mana saja, kapan saja


Andi Akhirah Khairunnisa

(Gadis Bugis yang tidak terlihat seperti orang Bugis karena sudah 13 tahun di rantau)

Comments

  1. Kalau misal orang Jawa akan melamar orang Bugis apakah tetap ada uang Panai ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa iya bisa tidak Mbak, lagi-lagi kembali ke kesepakatan pihak keluarga 😊 kalau keluarga saya, ada yg suaminya orang Jawa, ketika menikah tidak pakai uang panai'...

      Delete
  2. betuuullll.. Uang panai itu ndak seharusnya memberatkan keluarga mempelai Pria, pun begitu juga calon mempelai Wanita tidak usah maksa uang panai sekian. laaahh apa mau uang panai tinggi tapi setelah nikah ngos2an ikat pinggang ikat leher tahan keinginan biar bisa bayar utang akibat maksa uang panainya tinggi, fiuuuhh...
    kalau bisa sih uang maharnya dikasih lebih berat dikit, toh itu mahar nanti kan untuk Sang Perempuan, bisa digunakan lagi nantinya, mahar itu sebaiknya barang yg bermanfaat; misal perhiasan emas, yg besok2 bisa digadai jika kepepet, kan jadinya membantu keuangan juga :)

    *salam kenal sesama anak Bugis :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa kak benar, memang baiknya tidak hanya memikirkan gengsi wedding sesaat, lebih baik memikirkan marriage yang akan dijalani 😅

      Salama kenal kembali Kak :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Dilema Menjadi Mahasiswa Baru pada Fakultas Hukum dan Cara Mengatasinya

Hikmah di Balik Ramainya RUU Permusikan