Lost in Seoul: Hilangnya Rasa Malu di Seoul

Minggu yang cerah pada pertengahan musim panas di Seoul, sekelompok mahasiswa asing terlihat kebingungan dan kepanasan di depan Gyeongbokgung Palace. Saya termasuk salah satu di antaranya. Kami adalah mahasiswa pertukaran pelajar pada musim panas tahun 2014 di Chonnam National University. Ada sekitar tujuh puluh lebih mahasiswa dari berbagai kampus dunia. Dari Indonesia hanya tiga orang, kala itu programnya didominasi oleh mahasiswa internasional dari United State (US), Taiwan, Hongkong, dan Malaysia. Hari minggu saat itu adalah hari pertama kami di Seoul, agendanya memang jalan-jalan, panitia memberi nama kegiatan tersebut “Lost in Seoul.” Agenda pertamanya adalah berwisata ke Gyeongbokgung Palace, salah satu tempat hits di Seoul dan wajib hukumnya untuk didatangi oleh turis yang berkunjung ke Korea Selatan (Korsel). Tidak lama kami menghabiskan waktu di sana, rasanya lelah melihat ramainya turis yang tiba-tiba berubah menjadi warga lokal Korsel dengan menggunakan Hanbook (baju tradisional korea) untuk berkeliling di sekitar istana. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya di tengah musim panas dengan keringat yang tiada henti mengucur ini, harus bergantian kostum dengan semua turis yang datang. Akhirnya kami memilih untuk melaksanakan agenda lost in Seoul  lebih cepat.

source: english.visitkorea.or.kr

Hilang di Seoul, sepertinya tidak akan asyik apabila kami tetap mengikuti salah seorang Korean Buddy. Kami tidak akan benar-benar merasakan “hilang” di negara orang. Akhirnya saya dan dua orang teman lainnya, Breanna dari US dan Rina dari Malaysia, memutuskan untuk berpisah dari kelompok-kelompok itu dan tidak mengajak satupun Korean Buddy. Saat itu rasanya kami bahagia sekali dan sangat antusias karena benar-benar akan merasakan berjalan-jalan sebagai warga lokal. Kami mengawali petualangan hari itu dengan menaiki Subway ke salah satu pusat perbelanjaan di Seoul. Ahahaha yahh namanya juga turis pasti ke tempat belanja. Ternyata Breanna adalah salah satu pecinta segala hal yang berbau Korsel, dia memiliki banyak pengetahuan tentang Negara Gingseng itu. Akhirnya dia membawa kami ke Insadong salah satu pasar di tengah Kota Seoul yang sering didatangi turis karena menawarkan oleh-oleh yang murah meriah.

Sesampainya di sana hari sudah menjelang maghrib. Saat itu bulan puasa, akhirnya saya dan Rina bergegas mencari makanan halal untuk berbuka. Kami menemukan kedai kebab yang harganya lumayan murah. Sesudah membeli kebab, kami berkeliling Insadong dengan tempo cepat, karena ingin mencari tempat duduk yang enak untuk berbuka puasa. Ketika berkeliling itu saya melihat beberapa pagar dan pojokan yang dipenuhi gembok. Entahlah, mengapa orang Korea dan turis-turis yang datang ke sana sepercaya itu dengan mitos gembok. Sepertinya salah satu kontributor pemasukan ekonomi terbesar di Korea Selatan adalah produsen gembok. Saya heran, kalau suatu saat nanti pasangan yang menuliskan namanya di gembok-gembok hubungannya berakhir, apakah mereka akan membawa gergaji kemudian berusaha melepas gembok yang mereka pasang? Ataukah mereka biarkan saja kemudian di tempat lain memasang gembok lainnya dengan pasangan yang baru? Ahhh biarkan saja, toh gembok-gembok itu lumayan bagus juga dijadikan latar untuk berswafoto.

source: thesoulguide.com
Breanna seperti tipikal bule-bule US lainnya, jalannya cepat dan tergesa-gesa. Dia hanya singgah di toko yang menjual pernak-pernik K-pop sedangkan saya sama sekali tidak tertarik. Akhirnya saya memutuskan untuk memperlambat langkah dan lebih fokus melihat-lihat sekitar. Tiba-tiba saya melihat sesuatu yang menarik di salah satu stand. Semua percakapan dalam Bahasa Inggris. “Breanna, Rina, kalian duluan saja, tunggu saya di ujung jalan, saya mau membeli sesuatu” ucapku dengan suara sedikit keras karena mereka sudah agak jauh di depan. Breanna mengangguk, “jangan lama-lama sebentar lagi maghrib” timpal Rina. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dan aku mendekati stand penjual yang menarik mataku. Terlihat berbagai macam baju bayi yang sangat lucu-lucu. Ada berbagai kostum tokoh superhero, kostum profesi, hingga kostum hewan. Kemudian aku melihat kostum pesumo, sederhana saja warnanya hitam dan putih. Saya membayangkan si Alkhaf, keponakan  yang baru berumur tiga bulan itu akan terlihat sangat imut dan menggemaskan ketika memakainya.

Tanpa perlu tawar menawar lagi saya langsung membeli baju bayi itu. Menurut saya harganya sangat murah untuk ukuran Seoul, hanya sekitar delapan puluh ribu rupiah. Sayapun melanjutkan perjalanan sembari mencari-cari Breanna dan Rina. Mereka berada di depan sebuah tokoh pernak-pernik yang menjual segala macam oleh-oleh populer Korsel. Kami melanjutkan perjalanan dan menemukan sebuah taman di tengah gedung-gedung tinggi. Akhirnya kami memutuskan untuk duduk di sana sambil berbuka puasa memakan kebab yang sudah dibeli tadi. Saat itu menunjukkan pukul tujuh malam, kami masih memiliki waktu dua jam lagi sebelum kembali berkumpul di depan Gyeongbokgung Palace dan kembali ke penginapan. Breanna mengusulkan untuk pergi ke Myeondong, kawasan wisata belanja yang paling hits dan ramai di Korea. Kawasan ini memeluk segala level konsumen, tidak seperti Insadong yang lebih menjadi favorit golongan menengah ke bawah.

Lagi-lagi tempat wisata belanja yang menjadi tujuan kami, karena sebenarnya saya sudah sempat menjelajahi beberapa tempat wisata hits di Seoul pada hari pertama setiba di Korea dua minggu sebelumnya. Sedangkan Breanna dan Rina berencana untuk extend setelah program summer school kami dan akan berjalan-jalan beberapa hari di Seoul. Kami hanya berkeliling sebentar di Myeondong, fokus kami kala itu adalah mencoba berbagai macam tester produk kosmetik di beberapa gerai tanpa membeli apapun ahaha. Akhirnya kami kembali  berkumpul bersama seluruh peserta dan panitia di depan Gyeongbokgung Palace. Sekitar tiga puluh menit perjalanan kami tempuh menuju penginapan. Setibanya di penginapan, saya mendapat jatah kamar bersama seorang mahasiswi dari Malaysia. Tapi maafkan saya lupa namanya siapa huhuu... Padahal saya mengikuti program home stay bersama dia juga dengan orang tua asuh yang sama. Ternyata otak saya sangat buruk dalam mengingat nama.

Setelah bersih-bersih diri dan sholat maghrib dijamak isya, saya mulai membereskan hal-hal yang saya beli tadi. Kemudian ada pesan di line dari Korean Buddy saya, dia menyuruh kami sekelompok untuk berkumpul di ruang tamu sambil bercerita tentang hal-hal yang kami lakukan hari itu. Kebetulan saya, Breanna dan Rina berada dalam satu kelompok yang sama. Peserta satu kelompok lainnya yang saya ingat namanya adalah Mengchun dari Taiwan, dan Ian dari US, saya lupa nama seorang gadis dari Hongkong, beserta dua orang Korean Buddy. Ketika menulis ini, saya membuka instagram dan berusaha menemukan akun mereka yang nama-namanya saya lupakan, tapi ternyata tidak berhasil. Maafkan kelemahan saya dalam mengingat nama.

Satu persatu mulai menunjukkan barang yang mereka beli dan bercerita mengenai hal apa yang mereka lakukan seharian tadi. Kemudian tibalah giliranku. Dengan sangat antusias aku berkata “Liat deh aku tadi beli baju buat ponakanku, lucu banget dan murah!” semua mata menatapku penasaran. “Ini diaaa” sembari menunjukkan baju bayi yang tadi kubeli. Kemudian salah satu Korean Buddy langsung berteriak “Lohhh itu kan baju anjing!!!” Seketika aku panik dan mulai memperhatikan dengan seksama sambil merasa tidak percaya “ahhh ngga mungkin, ini baju bayi kok.” Kemudian si Korean Buddy tadi mengambil baju itu dari tanganku sambil berkata “Nihhh liat ada tempat ekornya.” Seketika semua orang di ruang itu tertawa. Akupun ikut menertawakan diri sendiri, aku kehilangan rasa maluku di Korea di hadapan mahasiswa-mahasiswa se-dunia wkwkw.

Sebenarnya ketika membeli baju itu tadi, saya sudah merasa kok murah yah bajunya. Meskipun tadi memang terlihat ada tempat ekor, saya sama sekali tidak kepikiran bahwa itu adalah tempat ekor, saya kira hanya hiasan biasa. Betul-betul kejadian bodoh efek lost in Seoul dan kesotoyan saya tanpa mengajak seorang Korean Buddy untuk berkeliling di Seoul hari itu. Ahaha hingga saat ini saya selalu tertawa ketika mengingat kejadian itu. Bahkan sepertinya semua peserta yang berada di ruangan itu juga masih mengingatnya “ada seorang mahasiswa pertukaran pelajar dari Indonesia yang membeli baju anjing sebagai oleh-oleh untuk keponakannya yang berumur tiga bulan.

Sekembalinya ke Indonesia, saya menjadi bahan tertawaan keluarga besar dan teman-teman yang saya ceritakan. Selanjutnya anda sekalianlah yang mungkin akan menertawakan saya :D



Ditulis di Jakarta, 06 Februari 2019
Dibaca di mana saja, kapan saja

Andi Akhirah Khairunnisa


Comments

Popular posts from this blog

Uang Panai’: Kasih Tak Sampai Para Bujang Bugis

Hikmah di Balik Ramainya RUU Permusikan

Melalui Blog, Saya Belajar Mencintai Diri!