Sederhana Saja: Sebuah Resensi Puisi


Gambar: Dadang Lesmana
Sumber: Khrisna Pabhicara


Dia yang Memunggungimu

Kita berada di pelukan yang sama. Aku memeluk lututku, kamu memeluk bayangnya.
Kamu akan tenang meninggalkanku, aku pasti senang menunggalkanmu.

Kita berdiam di rumah yang sama. Aku di masa entahmu, kamu di masa lalunya.
Kamu berbahagia dengan melupakanku, aku berbahagia dengan mengingatmu.
Kita tegak di jalan yang sama. Aku memandangi punggungmu, kamu menangisi punggungnya.
Kamu mengandalkannya, aku mengandaikanmu.

2015, Khrisna Pabichara


Sejujurnya saya bukan penikmat puisi dengan beragam diksi yang indah. Bagiku semua itu terasa memusingkan. Entahlah, mungkin semakin memusingkannya sebuah puisi, maka akan semakin indahlah puisi tersebut. Atau pendapat saya salah? Saya hanya pengamat amatir yang belum paham tentang keindahan sebuah karya sastra berupa puisi. Tapi di sini saya akan mencoba menulis sebuah resensi puisi yang sederhana saja. Bukan puisinya yang sederhana, tapi resensi sayalah yang sederhana. Mungkin puisinya juga sederhana dibanding puisi-puisi yang dijadikan pilihan lainnya, sehingga membuat puisi ini paling banyak dipilih oleh teman-teman pejuang Kata Hati Challenge.

Awalnya jiwa ambisius saya muncul, dalam hati saya mengatakan tidak akan memilih puisi Pak Khrisna Pabichara, karena sudah banyak yang memilihnya. Setelah membaca dan mencoba memahami semua puisi-puisi yang disajikan, ternyata saya sulit untuk menemukan interpretasi serta pemaknaan yang tepat dari semua puisi tersebut. Hanya puisi berjudul “Dia yang Memunggungimu” inilah yang membuat saya mudah untuk menangkap maknanya dengan baik. Puisinya lugas, sederhana tapi memiliki makna dalam.

Saya yakin setiap pembacanya turut merasakan kesedihan yang dirasa oleh tokoh Aku. Perasaan yang tidak berbalas ketika orang yang kita cintai ternyata masih mencintai orang lain di masa lalunya. Memiliki raga seseorang tanpa disertai jiwa adalah suatu kesia-siaan, tapi tokoh Aku masih tetap memilik harapan terhadap seseorang yang dicintainya itu, tokoh Kamu. Sepertinya setiap orang mungkin pernah merasakan hal yang sama. Mencintai dan menyayangi seseorang yang (sayangnya) mencintai orang lain. Puisi ini sangat bisa menggambarkan perasaan kita semua. Sederhana saja, tapi makna dan perasaan yang dirasakan tidak sesederhana itu.


Ditulis di Jakarta, 03 Februari 2019
Dibaca di mana saja, kapan saja

Andi Akhirah Khairunnisa



Comments

  1. Puisi tidak selalu berkaitan dengan kata-kata rumit kok Kak, hehe. Justru kalau diperumit sampai njelimet jadi sia-sia dia karena sulit dipahami. Omong-omong, pendapatku senada dengan Kakak, soal penggambaran dua orang yang mencintai orang yang tidak mencintai mereka kembali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Kak Baguer, terima kasih sudah mampir :) iya saya sepakat, puisi menjadi indah dengan pilihan diksi tapi tidak memusingkan. Saya sudah mampir ke blog Kakak dan sangat terkagum-kagum melihat resensi puisi yang Kakak tulis. Keliatan jelas bahwa Kakak menulisnya dengan passion dan penghayatan yang sangat baik :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Uang Panai’: Kasih Tak Sampai Para Bujang Bugis

Sebuah Dilema Menjadi Mahasiswa Baru pada Fakultas Hukum dan Cara Mengatasinya

Hikmah di Balik Ramainya RUU Permusikan